BUKU SOP

PETUNJUK PELAKSANAAN BUDIDAYA PADI SAWAH VARIETAS BATAN
Program Kerjasama
BGA-C BATAN dan MB PLUS AGRO
dengan Pemerintah Daerah Aceh

LuaL

Edisi Pertama, Desember 2012
Penyusun : BGA-C. BATAN

 

 

IDENTITAS PERORANGAN

 1.    Nama         :  …………………………………………

2.    Posisi    *)    :  Petani / Kepala Kelompok Tani 

                                       Kepala UPTB BPP / Lainnya

3.    Desa             :  ………………………………………….

4.    Kecamatan   :  ………………………………………….

5.    Kabupaten    :  ………………………………………….

6.    Luas Lahan Sawah  :  ……..  hektar

7.    Hasil Padi

         Musim Sebelumnya :  ……..  ton GKP/hektar

                            

  *) Beri tanda yang sesuai

 

PENGANTAR

          Buku ini memuat petunjuk praktis budidaya padi sawah di lahan beririgasi teknis, dengan maksud agar bisa  menjadi buku pegangan bagi para petani yang terlibat dalam program kerjasama antara Batan Golden Age Club (Paguyuban Pensiunan BATAN) dan PT MB PLUS AGRO  dengan Pemerintah Provinsi Aceh.  Atas dasar pertimbangan tersebut  buku ini disusun  seringkas dan sejelas mungkin agar mudah dipahami oleh para petani dan disajikan sesuai dengan tahapan kegiatan budidaya padi sawah.

              Tujuan akhir dari program kerja sama ini adalah untuk peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi padi sawah menuju Provinsi Aceh menjadi lumbung beras nasional

          Buku ini memuat Petunjuk Pelaksanaan Budidaya Padi Sawah Beririgasi, yaitu suatu teknologi budidaya padi dengan lima komponen teknologi : benih, cara tanam, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta tata kelola air. Selain itu diharapkan pula  agar kiranya buku ini dapat digunakan sebagai buku pegangan bagi  para Ketua Kelompok Tani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), dan para Kepala UPTB BPP sebagai instrumen untuk  pemantauan dan evaluasi.

          Penyusun buku  memohon maaf jika ada hal yang masih belum sempurna baik dalam isi dan materi, maupun penyajiannya.  Dengan perasaan senang hatipenyusun mengharapkan masukan serta saran untuk  penyempurnaan edisi berikutnya.

                                                                                                        Jakarta, 29 November 2012

                                                                                                Tim Penyusun BGA-Club. BATAN

 

 

DAFTAR ISI

 

     IDENTITAS PERORANGAN ………………………………..  I

      PENGANTAR ………………………………………………… II

      DAFTAR ISI …………………………………………… …… III

A)  BUDI DAYA …………………………………………………….1

1.  Persiapan Pendahuluan ……………………………………….1

 2. Penyiapan Lahan (Pengolahan Tanah) … …………………..1

3. Penyiapan Persemaian …………………… ………………….2

4. Sebar Benih ……………………………………………………..2

5. Penanaman ……………………………………………………..3

6. Pemupukan ……………………………………………………. 4

7. Pengendalian Organisme

    Pengganggu Tanaman ( OPT ) ………………………………. 4

8. Tata Kelola Air ……………………..……………..……………10

9. Panen …….……………………………………..……….……..13

B) CATATAN, PEMANTAUAN, DAN  EVALUASI…………….15.

1.      Persiapan Pendahuluan

          a. Lakukan pemberantasan tikus secara masal apabila diperlukan

           b. Perbaiki dan bersihkan saluran air / pematang sawah

           c. Laksanakan kegiatan lain yang dianjurkan oleh PPL atau Ketua Kelompok Tani

 2.    Penyiapan Lahan

a. Lakukan pembajakan tanah pertama, kira-kira 20 hari sebelum tanam, untuk membalik tanah dan memberi kesempatan tanah mendapatkan                                                                                                                                                                                                                oksigen (aerasi).

b. Cangkul sudut petakan sawah yang tidak terbajak, lahan belum perlu digenangi.

c. Genangi lahan sawah kira-kira 7 hari sebelum pembajakan kedua.

d. Lakukan pembajakan kedua, disusul dengan penghancuran dan perataan tanah dengan cara menggaru

e. Permukaan tanah yang sudah rata terlihat dari permukaan air di dalam petak sawah.Bersamaan dengan perataan tanah dilakukan pemberian    pupuk   bio-organik (PBO) tepung sebagai pupuk dasar sebanyak  500 kg/ha. Sistem drainase petakan sawah harus ditutup.

f. Setelah digaru sawah dibiarkan 2-3 hari mencapai kondisi macak-macak untuk mengen­dapkan lumpur agar tanah bisa dicaplak.

3.  Penyiapan Pesemaian

 a.  Penyiapan Benih

1)  Benih yang digunakan adalah varietas Mira-1, sebanyak 30 kg/ha.

2)  Benih yang akan disemaikan perlu disortir dengan cara dimasukkan ke dalam air garam dapur  3% (1 ons dalam 3,5 liter air), benih yang mengapung    dibuang.

3)  Benih yang mengendap dimasukkan ke dalam  karung untuk direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan. Setelah itu dilakukan pemeraman selama 48 jam   supaya perkecambahan bisa merata.

b.  Penyiapan Lahan Pesemaian

1. Siapkan lahan pesemaian 1/20 dari luas area sawah yang akan ditanami, atau kira-kira 500 m2/ha sawah.

2. Lahan pesemaian dibajak dan digaru kemudian dibuat bedengan sepanjang 5-6 m, lebar 1,2 m dan tinggi 20 cm.

3. Pesemaian dipupuk dengan dosis 1,2 kg PBO tepung / m2,  sebelum benih disebar.

4.  Sebar benih

 aBenih yang telah berkecambah, kira-kira 1 mm, disebar secara merata di pesemaian.

b. Pesemaian diairi secara berangsur sampai cukup basah/macak-macak. Semprotkan pestisida pada hari ke 7.

c. Bila 1 minggu sebelum ditanam terjadi serangan penggerek batang, gunakan Furadan atau  insektisida lain sesuai ketentuan.

5. Penanaman

a. Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 15-20 hari, berdaun 4-5 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit

b. Pada saat tanam lahan sawah tidak digenangi.

c.  Bibit padi varietas Mira -1 ditanam dengan cara jajar legowo 2 : 1 ( yaitu 50 cm x 25 cm x 12,5 cm jarak antar baris legowo 50 cm, jarak antar  baris 25 cm, dan jarak rumpun pada baris kiri kanan legowo 12,5 cm, lihat gambar), atau legowo 4 : 1

d.    Ditanam 1-2 batang bibit tegak pada kedalaman 3-4 cm.

Untitled-1 copy

Gambar 1.  Penanaman padi dengan pengaturan jarak      tanam  jajar     legowo 2:1 menggunakan “caplak legowo”

6. Pemupukan

a. Pemupukan I pada saat menggaru dengan PBO  (pupuk  bio-organik) tepung dengan dosis 500 kg/ha

b. Pemupukan II diberikan saat tanaman berumur 45 HST dengan PBO granular, dosis 500 kg/ha

c. Pemupukan tambahan diberikan melalui daun  dalam  bentuk POC cair, saat tanaman berumur 21, 35, dan 60 HST masing-masing dengan dosis 2 liter/ha dalam 100 liter air.

 7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

 a.  Pengendalian Gulma.

1)  Pengendalian gulma diperlukan untuk :

a)    mengurangi persaingan antara tanaman padi dan gulma  untuk mendapatkan hara, air, sinar matahari, dan    tempat untuk tumbuh dan berkembang;

b)    memutus siklus pertumbuhan gulma;

c)    Mencegah perkembangan tanaman inang bagi organisme penggaggu tanman padi; mencegah penyumbatan saluran air dan gangguan terhadap aliran air irigasi.

2)  Pengendalian gulma harus dilakukan secara manual dan dilukukan paling sedikit 3 (tiga) kali yaitu pada 25, 35, dan 45 HST  atau lebih tergantung perkembangan dan pertumbuhan gulma.

3)  Karena seringnya kondisi macak-macak maka pertumbuhan gulma harus diantisipasi dengan cara :

a)  Keringkan air sebelum dilakukan pengendalian gulma

b)  Dilkukan dengan tangan atau gasrok. Penggunaan  gasrok  juga untuk memotong akar dan merangsang pertumbuhan akar padi. Penyiangan secara manual (dengan tangan ) paling baik dimulai pada saat gulma belum berkembang biak sehingga mudah dicabut.

 b.    Pengendalian Hama dan Penyakit

 

1)     Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk Tikus  dilaksanakan     dengan cara :

 

a)  Laksanakan tanam serempak dalam satu hamparansekitar 50  hektar.

b)  Libatkan dan berdayakan kelompok tani yang berada dalam hamparan tersebut.

c)  Persiapkan lahan sawah, bahan, dan peralatan untuk pengendalian tikus yang secara tradisional lazim digunakan oleh petani setempat

d)  Laksanakan PHT tikus di bawah koordinasi ketua kelompok tani dan petunjuk dari PPL atau arahan dari UPTB BPP setempat.

e)  PHT tikus mulai dilaksanakan sejak pratanam sampai fase primodia(fase pertumbuhan vegetatif), atau sesuai dengan petunjuk PPL dan UPTB BPP setempat.

f)     Tingkatkan koordinasi antar-petani dengan aparat setempat seperti PPL Kepala UPTB BPP, Kepala Adat/Mukim dan Kepala Desa

2)     Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam Pengendalian Hama Terpadu :

a)  Jangan lakukan penanaman di luar jadwal yang ditetapkan.

b)  Lakukan pemantauan secara terjadwal, terhadap perkembangan hama wereng coklat, penggereng batang, dan tunggro.

c)  Hasil pemantauan oleh petani atau ketua kelompok tani, laporkan segera kepada Petugas Penyuluh Lapangan untuk ditindaklanjuti.

d)  Lakukan pngendalian hama dengan pestisida yang  sesuai, dengan cara dan waktu yang tepat.

3)     Jenis Hama dan Cara Pengendaliannya

Hama  yang sering meinimbulkan kerusakan berat adalah (i) tikus, (ii) wereng coklat, (iii) penggerek batang dan (iv) ganjur. Sedangkan tungro, hawar daun jingga, dan blast merupakan penyakit utama.

a)    Hama Tikus dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian yang sangat besar bagi petani Pada saat awal, tikus menyerang benih yang baru di sebar pada fase pertumbuhan vegetatif dan generatif mengerat batang dan bulir padi.

Cara Pengendalian :

  • Lakukan tanam padi secara serempak dalam hamparan yang luas tanpa batas administratif
  • Lakukan pengemposan dengan asap belerang secara intensif terutama menjelang dan sesudah panen
  • Pengumpanan dengan racun tikus dan penggropyokan secara rutin
  • Tikus harus dikendalikan secara serempak, massal, dan terus menerus dalam hamparan yang luas.

b)     Penggerek Batang Padi merupakan hama utama tanaman padi. Dari enam jenis  penggerek padi dua jenis di antaranya yang paling dominan adalah penggerek batang padi putih (Triporyza inotata) dan penggerek batang padi kuning (Triporyza incetulata). Hama ini menyeang padi sejak penanaman sampai stadium generatif

         Cara Pengendalian :

  • Pergiliran tanaman
  • Penangkapan ngengat dengan lampu perangkap
  • Penangkapan ngengat jantan dengan  “sex pheromon”
  • Penglepasan musuh alami dan penyemprotan insektisida setelah ditemukan dua telor/m2
  • Pemupukan berimbang,
  • Pengeringan petak sawah setelah panen

c)        Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens). WBC     berukuran 3-4 mm,senang hidup pada bagian yang lembab dan menyerang bagian batang. Telur diletakan pada pada pelepah dan tulang daun padi dalam  kelompok. Gejala serangan : Tanaman menguning; menyerang pada stadia generatif (malai muda) menyebabkan bulir padi menjadi hampa;  malai yang terserang semua bulirnya hampa; serangan dalam populasi kecil tanaman menguning dan kerdil.

   Cara Pengendalian

  • Pergiliran tanaman varietas unggul tahan wereng (VUTW);
  • Pola tanam (padi-padi-palawija);
  • Pemupukan berimbang ;
  • Penyemprotan pestisida Applaud WP dengan dosis            dua liter per hektar.
  • Pemberian carbofuran 3 MG Mipcin dan Hopcin pada fase pesemaian dan vegetatif.

 

d)        Hama Ganjur, hama ganjur menyerang tunas anakan pada bagian ujungnya sehingga menyebabkan pucuk daun muda menggulung rapat seperti daun bawang.

         Cara pengendalian dengan :

  • menggunakan Karbofuran jika intensitas serangan mencapai 5-10 %.
  • menanam padi pada awal musim hujan
  • menghindarkan pertanaman pada fase vegetatif dari kelembaban dan curah hujan tinggi
  • Pengendalian hama ganjur perlu  memperhatikan ekologi lingkungan

e)   Siput Murbai, menyerang tanaman padi terutama pada saat mulai berkecambah sampai umur 30 – 35 hari. Siput Murbai dapat menyerang padi muda sampai menimbulkan kerusakan 100%.

 Pengendaliandilakukan secara manual atau menggunakan kapur  tohor.
Pengendalian secara manual:
    • Kumpulkan telur siput dan rendam ke dalam air atau dihancurkan. Cara mudah pengambilan telur  dengan membuat patok (ajir) baik di sawah, rawa, ataupun di perairan umum, jangan biarkan koloni telur siput menetas
    • Pengambilan siput dapat pula dilakukan dengan menebarkan daun pepaya, ketela pohon, atau lainnya.

Pengendalian dengan kapur tohor

  • Alirkan air dalam saluran air caren/ kamalir sehingga siput terkumpul pada saluran air
  • Taburkan kapur tohor sebanyak 10 – 20 kg/ha pada saluran air atau caren tempat siput berkumpul. Dalam 2 – 3 hari siput murbai akan mati

Jenis Hama / OPT (organisme pengganggu tanaman) dan Pestidanya

 

          Jenis Hama   

Pestisida

          Lalat Bibit Reagen cairBpmcbaycarbImidaklopridTopdor
         Sundep/beluk Furadan
         Ulat tentara Decin, decisSuper metrin
         Ga   Ganjur Furadan
        Wereng coklat AplaudTrebon
        Walang Sangit Decis
        Penyakit hawar daun Fungisida SorentoScorScorpionDence

Cara penggunaan dan dosis sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kemasan

 8. Tata Kelola Air (Sistem Pengairan)

a.Tata Kelola Air, pada saat pengolahan tanah pertama (membajak untuk membalik tanah), pengolahan tanah kedua (membajak kedua untuk menghancurkan tanah), dan pengolahan tanah ketiga (menggaru dan meratakan tanah) sudah dikemukakan pada Sub-Bab Pengolahan Tanah.

b. Tata Kelola Air pada saat penyiapan pesemaian, sebar benih, dan pembuatan bedengan pesemaian sudah dikemukakan pada Sub-Bab Pesemaian.

c. Tata Kelola Air saat pemupukan juga sudah dikemukakan di atas.

d. Di luar ketiga hal di atas, tata kelola air sebaiknya dilakukan dengan menerapkan irigasi berselang,

eIrigasi berselang dilaksanakan dengan 1 – 2 digenangi dan 5 hari dikeringkan (tidak diairi), sampai tanah retak-retak.

f. Irigasi berselang tidak diterapkan pada saat pembungaan dan pemasakan bulir padi

g. Manfaat Irigasi Berselang :

1)  Penggenangan lahan sawah pada hakekatnya diperlukan untuk menekan pertumbuhan gulma agar tidak menjadi pesaing tanaman padi.

2)  Irigasi berselang diutamakan pada musim kemarau, sedangkan pada musim penghujan dapat dilakukan pada kawasan sawah yang tata kelola irigasinya baik, dengan tujuan :

a)  Agar akar mendapatkan aerasi yang cukup dan akar bisa bekembang dengan sempurna (ekstensif dan dalam)

b)  Mengurangi terjadinya keracunan besi, mencegah tertimbunnya asam organik, dan  pembentukan gas rawa (H2S).

c)  Tanaman tidak mudah rebah karena perpanjangan ruas batang dihambat

d)  Mengurangi pembentukan anakan yang tidak produktif (tidak bermalai).

e) Pemasakan gabah seragam dan mempercepat panen.

3) Irigasi berselang menghemat konsumsi air antara 25 – 30 %, sehingga luas area pesawahan yang diairi bisa bertambah luas

h.  Pelaksanaan Irigasi berselang.

1) Pada saat tanam kondisi sawah macak-macak; kondisi ini dipertahankan kira-kira 7 hari; pengaturan air pada awal pertumbuhan sangat menentukan kondisi perkembangan /pertumbuhan tanaman pada masa kritis (0-7 hari), pada saat ini harus diawasi secara seksama.

2) Setelah itu secara berangsur-angsur lahan sawah digenangi air hingga mencapai 2-5 cm. Penggenangan dilakukan sampai tanaman berumur 10 HST (hari setelah tanam

3) Selanjutnya sawah dikeringkan dengan membiarkan air di petakan sawah kering dengan sendirinya (tidak ada air masuk), biasanya 5 – 6 hari tergantung cuaca dan tekstur tanah

4) Setelah petakan sawah terlihat mulai retak-retak  selama dua hari, petakan sawah mulai digenangi kembali sampai tinggi air mencapai 5- 10 cm.

5) Proses pengeringan dan penggenangan seperti pada butir 3) dan 4) dilakukan hingga tanamanmencapai stadium pembungaan.

6)  Sejak saat keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, petakan sawah dalam keadaan digenangi dengan tinggi air 5 cm.

7)  Setelah itu sejak 10 hari sebelum panen sampai   panen,  sawah dikeringkan dengan tujuan mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen

9.  Panen

Usaha tani padi  mencapai hasil yang optimal jika  dipanen  pada umur yang  tepat dan  dengan cara yang  benar.

A. Padi dipanen pada saat masak fisiologik, berdasarkan ketentuan berikut :

1)  Umur tanaman sesuai dengan diskripsi varitas padi yang ditanam,

2)  Kadar air gabah antara 20 -26 %,

3)  Umur malai  berumur 30 – 35 hari setelah padi berbunga merata

4)  Keadaan malai yang sudah menguning mencapai 95 %

B. Cara Panen dilaksanakan dengan sistem      berkelompok. Cara ini bisa  mengurangi  kehilangan hasil dari kira-kira 19 % menjadi 4%.

Panen padi  dilakukan secara berkelompok dengan 30 anggota pemanen. Anggota kelompok dibagi dalam   subkelompok dengan pembagian tugas sebagai berikut :

1)  Untuk memotong padi 20 orang,

2)  Untuk mengumpulkan potongan padi lima orang,

3)  Tiga orang sisanya bertugas merontok padi dan mengemas gabah dalam karung

C. Jika saat panen digunakan mesin perontok (power thresher). Untuk mengurangi kerusakan pada gabah dan menghindari tercampurnya gabah dengan pengotor usahakan agar putaran drum/ silinder alat perontok dijaga pada putaran 600 – 800 rpm

 

 

PENUTUP

Petunjuk Pelaksanaan (Juklak ) ini disusun sesuai dengan tahapan kegiatan usaha tani, yaitu mulai dari persiapan atau penyiapan lahan sampai panen. Juklak ini disusun seringkas dan sejelas mungkin. Apabila dalam pelaksanaannya dijumpai  hal yang masih belum diatur, belum jelas, dan dijumpai masalah teknis yang timbul berkaitan dengan pelaksanaan budidaya  padi sawah di Aceh,  para petani  diminta segera menghubungi Ketua Kelompok Tani, Petugas Penyuluh Lapangan, atau Kepala UPTB BPP setempat untuk mendapatkan penjelasan dan upaya menyelesaikannya

B.        CATATAN , PEMANTAUAN, DAN EVALUASI


No.

Jenis Kegiatan

Tgl.

Evaluasi/Keterangan

1

Persiapan

2

Pengolahan Tanah

  • Pertama
  • Kedua

 

  • Ketiga

 

3

Penyiapan.  Pesemaian

4

Sebar Benih

5

Penanaman

6

Pemupukan

  • Pertama
  • Kedua

 

  • Ketiga

 


7

Pengendalian Gulma

8

Pengendalian Hama

  • Tikus

 

  • Wereng coklat

 

  • Pengerek batang

 

  • Keong Mas / Siput Murbei

 

  • Hama lainnya

 

9

Tata Kelola Air

10

Panen

11

Kegiatan lain*)

*)  Kegiatan yang diperintahkan oleh  Kapoktan / PPL /                  UPTB BPP / Kepala Mukim

                                    

CATATAN